Pages

Ads 468x60px

Senin, 17 November 2014

TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

TOPIK

Kata topik berasal dari bahasa yunani yaitu topoi. Topik adalah inti utama dari seluruh isi tulisan yang hendak disampaikan. Topik merupakan hal pertama yang difikirkan penulis sebelum membuat tulisan, mulai dari awal kemudian akan dikembangkan dan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas. 

Terdapat beberapa kriteria untuk sebuah topik yang dikatakan baik, diantaranya adalah topik tersebut harus mencakup keseluruhan isi tulisan, yakni mampu menjawab pertanyaan akan masalah apa yang hendak ditulis. Ciri utama dari topik adalah cakupannya atas suatu permasalahan msih bersifat umum dan belum diuraikan secara lebih mendetail.


Topik biasa terdiri dari satu satu dua kata yang singkat, dan memiliki persamaan serta perbedaan dengan tema karangan. Persamaannya adalah baik topik maupun tema keduanya samasama dapat dijadikan sebagai judul karangan. Sedangkan, perbedaannya ialah topik masih mengandung hal yang umum, sementara tema akan lebih spesifik dan lebih terarah dalam membahas suatu permasalahan.


Cara Membatasi Topik :

Topik adalah segala yang ingin dibahas. Ini berarti, penulis sudah memilih apa yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan tersebut. Menurut Sabarti Akhadiah (1994: 211), ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam memilih topik:
  1. ada manfaatnya untuk perkembangan ilmu atau profesi
  2. cukup menarik untuk dibahas
  3. dikenal dengan baik
  4. bahannya mudah diperoleh
  5. tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit
Menurut Keraf (1979), rumusan topik sebagai berikut :
  1. Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
  2. Mengajukan Pertanyaan, apakah topik yang ada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut ? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu disekitar lingkaran topik pertama tadi.
  3. Tetapkanlah dari rincian tersebut apa saja yang akan dipilih.
  4. Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci atau tidak.

Syarat-syarat Topik Yang Baik :
  • Menarik untuk ditulis dan dibaca
Topik yang menarik bagi penulis akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan penulisannya, dan bagi pembaca akan mengundang minat untuk membacanya.
  • Dikuasai dengan baik oleh penulis minimal prinsip-prinsip ilmiah
Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis harus menguasai teori-teori (data sekunder), data di lapangan (data primer). Selain itu, penulis juga harus menguasai waktu, biaya, metode pembahasan, bahasa yang digunakan, dan bidang ilmu

Sumber Topik :
Tak jarang seorang penulis bingung saat menentukan apa yang hendak ia tulis, rasanya semua menarik dan banyak yang sudah ditulis orang sebenarnya banyak hal yang dapat dijadikan topik tulisan. Untuk membantu menentukan topik, seperti yang disampaikan Wayne N. Thompson dalam Rakhmat (1999:20), seorang penulis daat menemukan sumber topik dengan cara sebagai berikut.
  •  Pengalaman Pribadi
a. Perjalanan
b. Tempat yang pernah dikunjungi
c. Kelompok Anda
d. Wawancara dengan tokoh
e. Kejadian luar biasa
f. Peristiwa lucu
  • Hobi dan Keterampilan
a. Cara melakukan sesuatu
b. Cara kerja sesuatu
  • Pengalaman Pekerjaan atau Profesi
a. Pekerjaan tambahan
b. Profesi keluarga
  • Pelajaran Sekolah/Kuliah
a. Hasil-hasil penelitian
b. Hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut
  • Pendapat pribadi
a. Kritik terhadap buku, film, puisi, pidato, iklan, siaran radio /televisi
b. Hasil pengamatan pribadi
  • PeristiwaHangat dan Pembicaraan publik
a. Berita halaman muka surat kabar
b. Topik tajuk rencana
c. Artikel
d. Materi kuliah
e. Penemuan mutakhir
  • Masalah Abadi
a. Agama
b. Pendidikan
c. Sosial dan masyarakat
d. Problem pribadi
  • Kilasan Biografi
a. Orang-orang terkenal
b. Orang-orang berjasa
  • Kejadian khusus
a. Perayaan atau peringatan
b. Peristiwa yang eratkaitannya dengan perayaan
  • Minat Khalayak
a. Pekerjaan
b. Hobi
c. Rumah tangga
d. Pengembangan diri
e. Kesehatan dan penampilan
f. Tambahan ilmu
g. Minat khusus


TEMA
Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis.

Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah atapnya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan.
Ciri-ciri Tema :
  1. Dalam novel dan cerpen, tema biasanya dapat dilihat melalui persoalan yang dikemukakan.
  2. Tema juga dapat dilihat melalui cara-cara watak itu bertentangan satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan.
  3. Tema dapat dikesan melalui peristiwa, kisah, suasana dan unsur lain seperti nilai kemanusiaan yang terdapat dalam cerita, plot cerita, perwatakan watak-watak dalam sebuah cerita.
Syarat-syarat Tema Yang Baik :

  • Tema menarik perhatian penulis.
Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
  • Tema dikenal/diketahui dengan baik.
Maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
  • Bahan-bahannya dapat diperoleh.
Sebuh tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
  • Tema dibatasi ruang lingkupnya.
Tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya.
tema dapat dikesan melalui:
  1. Perwatakan watak-watak dalam sesebuah cerita.
  2. Peristiwa,kisah,suasana dan unsur lain seperti nilai-nilai kemanusian dan kemasyarakatan yang terdapat dalam cerita.
  3. Persoalan-persoalan yang disungguhkan dan kemudian mendapatkan pokok persoalannya secara keseluruhan.
  4. Plot cerita.
  5. Tema harus Bermanfaat.
  6. Tema yang dipilih harus berada disekitar kita.
  7. Tema yang dipilih harus yang menarik.
  8. Tema yang dipilih ruang lingkup sempit dan terbatas.
  9. Tema yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif.
  10. Tema yang dipilih harus memiliki sumber acuan.
JUDUL
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain, identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersifat menjelaskan diri dan yang menarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah(lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada juga yang mendefinisikan judul sebagai lukisan suatu artikel atau juga disebut miniature isi bahasan.
Judul dapat dikatakan sebagai jabaran topik atau tema. Karena itu, judul harus mampu mencerminkan topic atau tema, tidak boleh menyimpang dari intinya.

Samakah judul dengan topik? Jawabannya tentu saja tidak. Topik ialah pokok pembicaraan, sedangkan judul adalah nama, merek, atau label karangan. Topik bersifat implisit, sedangkat judul bersifat eksplisit. Karena sifat topik, dan judul seperti itu, biasanya penulis menentukan topik yang ingin dibahasnya sebelum menulis, sedangkan pembaca menemukan judul sebelum membaca. Sebaliknya, penulis menentukan judul ketika atau setelah menulis, sedangkan pembaca mengetahui topik tulisan setelah membaca.

Dengan demikian, judul dan topik tidak sama. Dalam karangan fiksi –misalnya- topik tidak dengan sendirinya menjadi judul. Misalnya roman yang berjudul “Siti Nurbaya” bertopik dalam “Kawin Paksa”. Dalam karya ilmiah, biasanya topik bisa serta-merta menjadi judul. Berdasarkan uraian ini, maka topik yang sudah sangat spesifik di atas dapat langsung dijadikan judul.

Fungsi Judul :
  • Merupakan identitas atau cerminan dari jiwa seluruh tulisan.
  • Berkarakter, menarik, jelas hingga mengundang perhatian orang untuk membaca isinya
  • Gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya.
  • Relevan dengan seluruh isi tulisan, maksud masalah, dan tujuannya
Syarat-syarat Pembuatan Judul 
  • Harus relevan = Mempunyai keterkaitan dengan temanya atau bagian-bagian penting dari tema.
  • Harus provokatif = Menarik sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa ingin tahu tiap pembaca terhadap isi tulisan.
  • Harus singkat = Tidak boleh mengambil kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Jika penulis tidak dapat menghindari judul yang panjang, maka dapat menggunakan solusi dengan membuat judul utama yang singkat, tetapi dengan judul tambahan yang panjang.
  • Harus asli = Jangan menggunakan judul yang sudah pernah dipakai.
Syarat-syarat Judul Yang Baik :
  • Harus berbentuk frasa.
  • Tanpa ada singkatan atau akronim.
  • Awal kata harus huruf kapital, kecuali preposisi dan konjungsi.
  • Tanpa tanda baca di akhir judul.
  • Menarik.
  • Logis.
  • Sesuai dengan isi.
Pengertian Judul Langsung dan Tak Langsung :
  1. Judul Langsung : Erat kaitannya dengan bagian utamaberita, sehingga hubungannya dengan bagian utama berita terlihat jelas.
  2. Judul Tak Langsung : Judul yang hubungannya tidak langsung dengan bagian utama berita, tetapi menjiwai seluruh isi tulisan.
Special Thanks Prefer To :
http://jafarbaqdhat.blogspot.com/2012/11/pengertian-topik-tema-judul.html
http://imeldarickyayudibyanto.blogspot.com/2013/11/tematopik-dan-judul.html
http://yukfuk.wordpress.com/2010/04/22/topik-tema-judul
http://rezaprasetyo08.wordpress.com/2012/11/19/topik-tema-judul/
http://edukasi.kompasiana.com/2014/05/14/tema-tema-utama-perumusan-masalah-penelitian-655409.html

Senin, 10 November 2014

PARAGRAF (alenia)

Jika kalian membaca sebuah tulisan atau artikel yang kalimat pertamanya agak menjorok lebih kedalam dari garis yang seharusnya, mungkin saat ini kalian tidak heran lagi. Yap... Namanya adalah Paragraf atau nama lainnya biasa disebut Alenia. Untuk mengetahui sebuah tulisan adalah alenia memang mudah, namun ternyata untuk membuat sebuah alenia dalam tulisan itu lumayan sulit karena alenia sendiri memiliki unsur, syarat, dan macam-macam nya sesuai kaidah yang telah disepakati oleh para ahli.


  • TEORI PARAGRAF
  1. Paragraf adalah sebagai ka-rangan utuh dalam bentuk miniatur karena ciri-ciri utama suatu karangan dipunyai oleh suatu paragraf. Suatu karangan mempunyai perihal pokok yang dikemukakan sebagai isi pokok komunikasi. Demikian pula paragraf juga mempunyai pikiran pokok yang merupakan isi pokok paragraf. Suatu karangan dibangun dengan menggunakan sejumlah unsur, yaitu kata, kalimat, dan paragraf. Demikian pula, para-graf dibangun berdasarkan sejumlah unsur yaitu kata dan kalimat. Suatu karangan menyajikan isi secara utuh. Demikian pula paragraf menyajikan isi se-cara utuh. Walaupun paragraf mempunyai ciri-ciri yang sama dengan karangan, namun dalam sebuah karangan paragraf tetap merupakan unsur bagian karangan. Ujud sebuah paragraf adalah berupa rangkaian kalimat-kalimat yang terdiri dari dua kalimat atau lebih. Dapat pula sebuah paragraf hanya terdiri dari satu kalimat saja yang keseluruhan isi kalimat dalam paragraf merupakan satu kesatuan yang dibangun di atas satu ide atau pikiran pokok. (Syafi'ie , 1998)
  2. Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun secara logis dan sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran atau mengandung satu ide pokok yang tersirat dalam karangan. (Taringan, 1996)
  3. Paragraf adalah seperangkat kalimat berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas (Barnet, 1974).

Dari ketiga teori yang diungkapkan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwasanya paragraf adalah rangkaian atau seperangkat kalimat yang saling berhubungan atau terjalin secara utuh dan membentuk suatu kesatuan pokok pembahasan atau membahas suatu topik pembahasan atau suatu permasalahan pokok. Paragraf hanya mengandung satu gagasan utama atau satu pokok pikiran yang merupakan satuan bahasa yang lebih besar dari pada kalimat.


  • UNSUR - UNSUR PARAGRAF
  1. Topik/tema/gagasan utama/ gagasan inti/ pokok pikiran.
  2. Kalimat utama atau pikiran utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf . Kalimat yang mengandung pikiran pokok disebut kalimat utama. Keberadaannya bisa ada di awal paragraf, diakhir paragraf, bisa juga diawal dan diakhir paragraf.
  3. Kalimat pendukung atau kalimat penjelas berfungsi untuk menjelaskan gagasan utama. Gagasan penjelas biasanya dinyatakan kedalam beberapa kalimat. Kalimat yang mengandung gagasan penjelas disebut kalimat pendukung.
  4. Kata penghubung berfungsi sebagai pengait agar kalimat utama dan kalimat pendukung bisa memiliki kaitan yang erat dan tepat dengan sasaran maksud dan tujuan dari pada penulis, juga bisa membuat sebuah paragraf menjadi lebih menarik.

  • SYARAT -  SYARAT PARAGRAF
1. Adanya Kesatuan

Tiap alenia hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi alenia adalah mengembangkan gagasan pokok atau topik tersebut. Oleh karena itu, dalam pengembangannya tidak boleh ada unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut.
Alenia dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam alenia itu tidak telepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.

2. Koherensi

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alenia ialah koherensi atau kepaduan, yakni adanya hubungan yang harmonis, yang memperlihatkan kesatuan kebersamaan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam sebuah alenia. Alenia yang memiliki koherensi akan sangat memudahkan pembaca mengikuti alur pembahasan yang disuguhkan. Ketiadaan Koherensi dalam sebuah alenia akan menyulitkan pembaca untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya.
Dalam koherensi, termasuk pula keteraturan (sistematika) urutan gagasan. Gagasan dituturkan pula secara teratur dari satu detail ke detail berikutnya, dari satu fakta ke fakta selanjutnya, dari satu soal ke soal yang lain, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti uraian yang disajikan dengan seksama.
Untuk menyatakan kepaduan atau koherensi dari sebuah alenia, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frasa(kelompok kata) dalam bermacam-macam hubungan.

3. Pengembangan Paragraf

Perkembangan paragraf harus dijaga agar jangan sampai mengambang kearah yang tidak relevan untuk menjelaskan gagasan pokok. Misalnya, alenia dimulai dengan kalimat inti yang menyebutkan gagasan pokok yang hendak disampaikan, maka perkembangannya harus menjelaskan gagasan pokok tadi dalam kalimat-kalimat berikutnya, dengan selalu berpegang pada prinsip kesatuan dan koherensi. Perkembangan paragraf diarahkan untuk memperkuat memberikan argumentasi, atau mengkongkritkan pernyataan aau gagasan pokok yang disampaikan dalam kalimat inti di awal alenia.

  • MACAM - MACAM PARAGRAF
Paragram memiliki beberapa macam yang membuat sebuah paragraf lebih beragam, macam ini menentukan pula jenis apa paragraf yang dibuat dan cerita apa yang akan dimasukkan kedalamnya.
Jika dilihat dari macam paragraf, maka paragraf bisa di bangun dari 3 unsur utama yaitu :

1. Berdasarkan Posisi (Letak Kalimat Utama)
  • Paragraf Deduktif : memiliki kalimat utama yang terletak di awal paragraf, strukturnya dimulai dengan pernyataan umum lalu di ikuti oleh uraian-uraian penjelasan khusus.
  • Paragraf Induktif : memiliki kalimat utama yang terletak di akhir paragraf. strukturnya dimulai dari uraian-uraian penjelasan khusus dan di akhiri dengan pernyataan umum.
  • Paragraf Campuran : memiliki kalimat utama yang terletak diawal paragraf. strukturnya hampir sama dengan paragraf deduktif, namun pada kalimat akhirnya diselipkan juga kalimat utama yang bersifat penegasan kembali, sama seperti paragraf induktif'
2. Berdasarkan Fungsi

> Paragraf Pembuka

Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.

> Paragraf Penghubung

Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka.

> Paragraf Penutup

Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.

3. Berdasarkan Isi

A. Paragraf Eksposisi: berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.

B. Paragraf Argumentatif: bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.

C. Paragraf Deskriptif: berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

D. Paragraf Persuasif: karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.

E. Paragraf Naratif : karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.



  • SPECIAL THANKS PREFER TO
http://wonuameasalaro.blogspot.com/2011/12/makalah-paragraf.html
http://www.irfansyahputra.web.id/2014/01/pengertian-paragraf-meliputi-syarat-dan-jenisnya.html
http://tithagalz.wordpress.com/2010/10/24/paragrafalinea/

Senin, 03 November 2014

KALIMAT EFEKTIF


Pengertian kalimat efektif :
  • Menurut Arifin, kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria dan kaidah serta jelas dan enak dibaca.
  • Menurut Rahayu, kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat komutatif, gramatikal, dan sintaksis, kalimatnya juga harus mudah dipahami serta mampu menimbulkan daya khayal pada diri pembaca nya.
  • Menurut Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan informasi yang mudah dipahami oleh pembaca.
  • Menurut Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan, kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga mudah di pahami orang lain.
Dari beberapa pendapat diatas, kita dapat menyimpulkan bahwasanya kalimat efektif adalah sebuah kalimat yang di susun sedemikian rapih dan benar serta jelas maksud dan tujuannya sehingga pendengar/pembaca mudah mengerti apa yang disampaikan dan tidak melenceng sedikitpun terhadap maksud tersebut.



Kalimat efektif dirangkai agar dapat mewakili gagasan yang akan disampaikan oleh penulis, dapat dipahami oleh pembaca yang sama tepatnya dengan yang difikirkan penulis. Untuk mencapai tujuan itu semua, kalimat efektif tentu saja memiliki beberapa ciri-ciri serta syarat yang menghinggapinya.



Ciri-ciri Kalimat Efektif 

1. Adanya Kesatuan

Adanya kesatuan yang dimaksud ialah sebuah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu, Dalam kalimat yang efektif, gaya paralisme menempatkan unsur yang setara dalam konstruksi yang sama. Selain itu, kesatuan atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan memperhatikan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama. Artinya kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan bentuk ketiga menggunakan verbal. Dengan kata lain, kalau berawalan Me- selanjutnya akan berawalan Me-, kalau berawalan di- selanjutnya akan berawalan di-, begitu juga bentu ke-an.
contoh :
Sesudah dipahami dan dihayati, Pancasila harus diamalkan.
Sesudah memahami dan menghayati, kita harus mengamalkannya.

2. Kesepadanan Struktur

Kesepadanan adalah keseimbangan gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ditandai oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. 
Kesatuan menunjuk bahwa dalam satu kalimat hendaknya hanya ada satu ide pokok. Satu ide pokok tidak diartikan sebagai ide tunggal, tetapi ide yang dapat dikembangkan ke dalam beberapa ide penjelas.

Ciri-ciri Kesepadanan.
  • Mempunyai struktur jelas.
  • Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata depan: di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya yang ditempatkan di depan subjek.
  • Tidak terdapat subjek ganda.
  • Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh-contoh Kesepadanan

  • Kepada setiap pengendara mobil di Surabaya harus memiliki surat izin mengemudi = subyeknya tidak jelas.
  • Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. à unsur S-P-O tidak berkaitan erat
Mestinya…
  • Setiap pengendara mobil di Surabaya harus memiliki surat izin mengemudi.
  • Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.
3. Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat menggunakan kata , frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus meninggalkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Artinya membuang kata yang tidak perlu, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan :
  • Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh :
karena ia tidak belajar, ia tidak naik kelas (salah)
karena tidak belajar, dia tidak naik kelas (benar)
  • Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian super ordinat pada hiponimi kata.
Contoh :
Dia memakai kemeja warna merah (salah).
Dia memakai kemeja merah (benar).
  • Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh :
Para tamu-tamu; Para tamu.
Beberapa orang-orang; Beberapa orang.

4. Penekanan Kata

Merupakan perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Ada beberapa cara penekanan kata pada kalimat :
  • Meletakkan kata yang ditonjolkan itu pada awal kalimat
Contoh :
Sumitro menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan tidak puas.
Persoalan itu dapat diselesaikan dengan mudah.
  • Melakukan pengulangan (repetisi)
Contoh :
Saudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka dibodohi.
Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya berdimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi budaya.
  • Melakukan pengontrasan kata kunci
Contoh :
Informasi ini tidak bersifat sementara, terapi bersifat tetap.
Peserta kegiatan ini adalah laki-laki, bukan perempuan.
  • Menggunakan partikel penegas
Contoh :
Andalah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu.
Meskipun hujan turun, ia tetap bersemangat berangkat kesekolah.

5. Kevariasian (Variatif)

Kevariasian dalam kalimat efektif merupakan sebuah keserasian dalam penggunaan kata-kata baik dari keserasian lingkungan, maupun keserasian terhadap lawan bicara atau penulis terhadap pembaca. Kevariasian banyak digunakan di berbagai tempat seperti halnya perbedaan penggunaan kalimat ketika berbicara kepada teman dengan berbicara kepada orang tua, atau ketika seorang pembawa berita berbicara berbeda ketika sedang membawakan sebuah berita.

Kevariasian ini juga banyak disalah gunakan oleh penggunanya, dimana kesalahan-kesalahan yang sering terjadi tidak disadari dan terus membudidaya kepada pembaca/pendengarnya.

Contoh :
Seorang mc yang mengundang ketua panitia untuk memberikan sambutan atas sebuah acara dan mengatakan "Waktu dan tempat kami sediakan kepada ketua pantia".


Special Thanks Prefer To
http://dilihatya.com/2042/pengertian-kalimat-efektif-menurut-para-ahli
http://www.rumpunnektar.com/2014/02/ciri-ciri-kalimat-efektif-dan.html
http://vanandrianto.wordpress.com/2012/04/02/definisi-dan-ciri-ciri-kalimat-efektif-b-indo/

Minggu, 26 Oktober 2014

Kalimat Dasar


Menempatkan penggunaan bahasa sesuai tempat dan objek yang dihadapi merupakan hal terpenting dalam adat sopan santun, penggunaan bahasa tentu saja tidak boleh dilakukan secara lepas tanpa memandang lawan bicara yang akan dihadapi, bahkan ada banyak kata yang memang tidak layak untuk di katakan maupun ditulis. Maka dari itu penggunaan kalimat merupakan salah satu aspek penting yang harus dipelajari, dimana mempelajarinya dapat dimulai dari mengetahui kalimat dasar.

Teori
Adapun beberapa ahli mengungkapkan pengertian kalimat dasar seperti dibawah ini.

Kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri-sendiri, mempunyai pola intonasi akhir dan terdiri-dari ataus klausa (Cook, 1971;Elson dan Picket, 1969). 
Kalimat adalah suatu bentuk linguistis, yang tidak termasuk ke dalam suatu bentuk yang lebih besar karena merupakan suatu konstruksi gramatikal (Bloomfield, 1955). 
Di sisi lain, Lado (1968) mengatakan bahwa kalimat adalah satuan terkecil dari ekspresi lengkap. Pendapat lado dipertegas lagi oleh Sutan Takdir Alisyahbana (1978) yang mengatakan bahwa kalimat adalah satuan bentuk bahasa yang terkecil, yang mengucapkan suatu pikiran yang lengkap.
Dari beberapa pandangan ahli yang telah di ungkapkan, kita dapat menyimpulkan bahwasanya kalimat ialah kumpulan dari dua kata atau lebih yang di rangkai sedemikian rupa hingga membentuk sebuah expresi dan intonasi tertentu, guna menyampaikan suatu maksud atau informasi kepada yang dituju.

Unsur-unsur Kalimat
1. SUBYEK adalah unsur yang melakukan suatu tindakan atau kerja dalam suatu kalimat. Ciri-ciri dari subyek :
1. KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.

Jawaban atas pertanyaan apa dan siapa
berupa kata benda atau frase bendaan
Disertai kata itu, ini, dan tersebut
Didahului kata bahwa
Tidak didahului preposisi
Mempunyai keterangan pewatas yang

2. PREDIKATadalah sebagai unsur kata kerja.
Ciri-ciri predikat:

a.Predikat merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana.

b. Predikat disertai kata adalah atau merupakan

c. Predikat dapat diingkari

d. Predikat dapat disertai kata keterangan aspek

e. Predikat dapat disertai kata keterangan modalitas

f. Predikat dapat didahului kata yang

g. Predikat dapat berupa :
kata benda / frase nominal,
kata kerja / frase verbal,
kata sifat / frase adjektival,
kata bilangan / frase numeral,
kata depan / frase preposisional.

3. OBYEK adalah Unsur yang dikenai kerja oleh subyek.

Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-. Ciri-ciri objek ini sebagai berikut.

• Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.
• Dapat Menjadi Subjek Kalimat Pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.
• Didahului kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.

4. KETERANGAN dapat berupa keterangan waktu ataupun tempat selama kejadian.

Berikut ciri-ciri pelengkap.

• Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek.

Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
a) Diah mengirimi saya buku baru.
b) Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.
Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.

• Hasil jawaban dari predikat dengan pertanyaan apa.
Contoh :
a. Pemuda itu bersenjatakan parang.
Kata parang adalah pelengkap.
Bersenjatakan apa ? jawab parang ( maka parang sebagai pelengkap )
b. Budi membaca buku.
Membaca apa ? jawab buku (buku sebagai obyek karena dapat
menempati Subyek)

5. PELENGKAP adalah unsur yang melengkapi kalimat yang tak .

Ciri keterangan adalah dapat dipindah –pindah posisinya . perhatikan contoh berikut:
Cintya sudah membuat tiga kue dengan bahan itu.
S P O K
Dengan bahan itu Cintya sudah membuat tiga kue .
Cintya dengan bahan itu sudah membuat tiga kue.
Dari jabatan SPOK menjadi KSPO dan SKPO .Jika tidak dapat di pindah maka bukan keterangan.

Pola Kalimat
Untuk membentuk kalimat yang baik haruslah pula memperhatikan bentuk pola dari kalimat tersebut, menurut para ahli pola kalimat dibagi menjadi 7 bagian, yakni :

2. KB + KS : Dosen itu ramah.
3. KB + KBil : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
4. KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang.
5. KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film.
6. KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.
7. KB1 + KB2 : Rustam peneliti.
Ketujuh pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

Jenis Kalimat
Kalimat sendiri terdiri dari beberapa jenis yang harus berstruktur sehingga menjadi pola kalimat yang baik. Berikut ini merupakan jenis-jenis kalimat beserta pengertian dan contohnya :
1. KALIMAT TUNGGAL
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
1. Mahasiswa berdiskusi
S: KB + P: KK
2. Dosen ramah
S: KB + P: KS
3. Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
S: KB + P: Kbil

Pola 1 adalah pola yang mengandung subjek (S) kata benda (mahasiswa) dan predikat (P) kata kerja (berdiskusi). Kalimat itu menjadi Mahasiswa berdiskusi
S P
Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (dosen itu) dan berpredikat kata sifat(ramah). Kalimat itu menjadi Dosen itu ramah.
S P
Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (harga buku itu) dan berpredikat kata bilangan (sepuluh ribu rupiah). Kalimat selengkapnya ialah Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.

2.KALIMAT MAJEMUK
Kalimat majemuk ini sendiri merupakan susunan kalimat yang lebih kompleks dari kalimat tunggal, biasanya kalimat majemuk selalu berhubungan dengan kalimat penghubung. Kalimat majemuk terdiri dari beberapa jenis yakni
A. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih, Kalimati ini bisa disatukan dengan kata penghubung atau kalimat penghubung yang menjadikan kedua kalimat itu menjadi satu dan memiliki arti lebih luas. Kalimat majemuk setara dikelompokan menjadi empat jenis yaitu :

1. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
Kami membaca
Mereka menulis
Kami membaca dan mereka menulis.

2. Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh katatetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pertentangan.
Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.

3. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.

4. Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.

B. Kalimat Majemuk Tidak Setara
kalimat majemuk tak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain. Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini. 

Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.
Anak kalimat:
Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas.
Induk kalimat:
Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar.

Penanda anak kalimat ialah kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, bahwa,dan sebagainya.

C. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat).
Misalnya:
1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.

3. KALIMAT MINOR
Kalimat minor merupakan bentuk terkecil dari suatu kalimat, kalimat ini hanya terdiri dari dua unsur, bisa subjek yang dihilangkan bisa juga objel yang di hilangkan. Kalimat minor biasa digunakan untuk:
- Kalimat Tambahan
- Kalimat Jawaban
- Kalimat Salam
- Kalimat Panggilan
- Kalimat Seruan
- Kalimat Judul
Contoh :
Sudah tidur
Selamat siang

4. KALIMAT MAYOR
Kalimat mayor adalah kalimat yang lebih lengkap dari kalimat minor, kalimat mayor sekurang-kurangnnya harus memiliki fungsi subyek dan predikat, lalu di ikuti fungsi objek dan keterangan yang bersifat fakultatif.
Jika pada kalimat minor hanya tertulis "Sudah Tidur", maka dalam kalimat mayor haruslah lebih kompleks dengan menambahkan unsur subjek dan kata keterangannya.
Si doel sudah tidur dikamarnya

5. KALIMAT AKTIF
Kalimat aktif adalah  suatu kalimat yang dimana kalimat pokok melakukan kerja yang dinyatakan oleh kata sebutan yang berupa kata kerja dengan awalan me atau ber.
contoh : Wanita itu merangkai bunga.

6. KALIMAT PASIF
Kalimat pasif adalah sebuah kalimat yang dimana pokok kalimat dikenai oleh kata kerja sebutan. Kata kerja awalnya pada umumnya diberikan kata di- atau ter. Bila berawalan di seringkali di ikuti kata oleh pada kalimat tengahnya sebagai penghubung. kalimat pasif juga bisa dibilang kebalikan dari kalimat aktif
contoh : Bunga dirangkai oleh wanita itu.

SPECIAL THANKS PREFER TO :
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/12/pengertian-kalimat.html

http://mikofrezzy.blogspot.com/2010/10/unsur-unsur-kalimat.html
http://sellyinthewords.blogspot.com/2011/10/makalah-pola-kalimat-dasar-bindonesia.html
http://ridwansantosoug.blogspot.com/2014/01/kalimat-minor-dan-kalimat-mayor.html
http://www.mikhaangelo.com/2013/11/definisi-dan-contoh-kalimat-aktif.html

Minggu, 19 Oktober 2014

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)


   Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972, Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh panitia Ejaan Malindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no.062/67, tanggal 19 September 1967.

   Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdakan Republik Indonesia yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaikan ejaan baru untuk bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai oleh kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta penyempurnaan dari pada Ejaan Suwandi atau ejaan Republik yang dipakai sejak dipakai sejak bulan Maret 1947.
Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".

   Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan didalam EYD, antara lain :
  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakainya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan,dan xenon.
  • Awalan "di-" dan kata depan "di" dibedakan penulisannya, kata depan "di" pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara pada dibeli, dimakan ditulis dengan serangkai kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak dianggap sebagai penanda perulangan.
   Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EYD adalah :
1. Penulisan Huruf
  • Huruf Abjad
  • Huruf Vokal
  • Huruf Konsonan
  • Huruf Diftong
  • Huruf Kapital
  • Huruf Miring
  • Huruf Tebal
2. Penulisan Kata
  • Kata Dasar
  • Kata Turunan
  • Bentuk Ulang
  • Gabungan Kata
  • Kata Ganti ku, mu, dan nya
  • Kata Depan di, ke, dan dari
  • kata si dan sang
  • Partikel -kah, -lah, -tah
  • Singkatan dan Akronim
  • Angka dan Lambang
3. Penulisan tanda baca
  • Tanda Titik (.)
  • Tanda Koma (,)
  • Tanda Titik Koma (;)
  • Tanda Titik Dua (:)
  • Tanda Hubung
  • Tanda Pisah (-)
  • Tanda Seru (!)
  • Tanda Kurung (...)
  • Tanda Kurung Siku ([...])
  • Tanda Petik ("...")
  • Tanda Petik Tunggal ('...')
  • Tanda Garis Miring (/)
  • Tanda Penyingkat / Apostrof (')
4. Penulisan Unsur Serapan
   Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l'homme par l'homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Kata seperti standarisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh disamping kata standar, implemen, dan objek.
contoh penggunaan kata penyerapan yang salah :

  • Asal (Risk), Salah(Risiko), Benar (Resiko)
  • Asal(Frequency), Salah (Frekwensi), Benar (Frekuensi)
Dan ada lagi beberapa kata yang sudah lazim di eja tanpa harus dirubah :

  • Bengkel
  • Kabar
  • Nalar
  • Paham
  • Perlu
  • Sirsak

Special Thanks Prefer To :

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Yang_Disempurnakan
  • http://ukhuwahislah.blogspot.com/2013/10/makalah-ejaan-yang-disempurnakan-eyd.html

Senin, 13 Oktober 2014

DIKSI


 Pilihan kata atau kata lain yang telah kita pelajari semasa sekolah ialah "Diksi" Merupakan pemilihan kata yang seusai dengan apa yang hendak akan kita ucapkan. Diksi mencakup pengertian dan makna-makna dari suatu kata maupun kalimat yang mana dipakai untuk mencapai suatu gagasan, dan gaya bahasa yang paling baik digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
 Seorang ilmuan ternama Gorys Keraf (2002) mengemukakan beberapa point penting dari diksi antara lain :
- Pilihan kata atau diksi mencakup kata-kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam satu kondisi.
- Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pengdengar.
- Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Fungsi Diksi
Berikut ini adalah beberapa fungsi diksi 
- Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
- Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
- Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
- Menciptakan suasana yang tepat.
- Mencegah perbedaan penafsiran.
- Mencegah salah pemahaman.
- Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

Syarat- syarat Diksi :
- Membedakan makna denotasi dan konotasi yang cermat,
- Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, misalnya: adalah, ialah, merupakan, yaiu, dalam pemakaiannya berbeda- beda.
- Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan ), dan interferensi (saling mempengaruhi ), sarat ( penuh, bunting ) dan syarat ( ketentuan ).
- Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasasrkan pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan, pemakaian kata harus menemukan makna yang tepat dalam kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektif canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir, canggih berarti banyak cakap, suka menggangu, banyak mengetahui, bergaya intelektual.
- Menggunakan imbuhan asing ( jika diperlukan ) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
- Menggunakan kata-kata idomatik berdasarkan susunan ( pasangan ) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
- Menggunakan kata umum dan khusus secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus ke umum mislnya mobil ( kata umum ) , corolla ( sedan buatan Toyota )
- Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya : issu ( berasal dari issue berarti publikasi, kesudahan, perkara ) isu ( dalam bahasa Indonesia berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabarangin, desas-desus ).
- Menggunakan dengan cermat kata bersinonim ( pria dan laki-laki, saya dan aku, serta buku dan kitab ), berhomofoni ( misalnya: bangdan bank ) dan berhomografi( misalnya: apel buah, apel upacara, buku ruas, buku kitab ).
- Menggunakan kata abstrak (konseptual misalnya: pendiikan, wirauasaha dan pengobatan modern dan kata konkret ( kata khus misalnya: mangga, sarapan, dan berenang ).

Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan, atau suasana yang sedang berlangsung. Syarat kesesuaian kata:
- Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukan penggunakannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku), konduite (baku), kondite (tidak baku),
- Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus),
- Menggunakan kata berpasangan (idiomatuik), dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya melainkan juga (benar), bukan hanya tetapi juga (salah), tidak hanya tetapi juga (benar),
- Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot, dan merangkak, merah darah; merah hati. Menggukan kata ilmiah untuk karangan ilmiah, dan komunikasi non ilmiah (surat-meyurat, diskusi umum)
- Menggunakan kata popular, misalnya: argumentasi (ilmiah), pembuktian (popular), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa (popular).Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan dalam bahasa tulis), misalnya: tulis, baca, kerja (bahasalisan), menulis, menuliskan, membaca, membacakan, bekerja, mengerjakan, dikejakan, (bahasa tulis).

Makna Denotasi dan Konotasi
Denotasi (Denotatif)
  Makna denotasi adalah kata yang rujukannya tunggal atau makna kata yang sebenarnya, makna yang tidak memberikan peluang  pada pembaca untuk memberikan makna tambahan. Makna kata denotasi merujuk pada konsep dasar yang didukung oleh suatu kata. Makna denotasi lazim bisa juga disebut :
- Makna konseptual, yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi yang faktual dan objektif
- Makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat.
- Makna lugas, yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan makna hias.

Contoh-contoh Denotasi :
- Adik makan nasi (artinya adik memasukan sesuatu kedalam mulutnya)
- Harga kambing hitam itu sangat mahal ( kambing yang berwarna hitam)
- Kawanku gemar menggambar atap rumah segitiga ( memiliki tiga sudut/segi)

Konotasi (Konotatif)
  Makna konotasi merupakan sebuah khiasan atau biasa disebut juga bukan arti yang sebenarnya, makna dari konotasi akan timbul ketika kalimat telah di selesaikan.

Contoh-contoh Konotaasi :
- Dalam Peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam ( Orang yang di persalahkan)
- Diduga puluhan kapal yang hilang telah ditelan segitiga bermuda (sebuah tempat ditengah laut)
- Wanita itu makan hati setelah sekian lama di bohongi oleh kekasihnya ( sakit hati yang di pendam)

Berikut adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi :- MeluapDenotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu
dikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.Konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu
tidak pernah menemukan titik permasalahannya.

- PenuhDenotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh olehpemukiman penduduk.Konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.

- NaikDenotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.Konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.

- TumbuhDenotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar- besar.Konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke
era reformasi.

- AtasDenotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.Konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan
warna

- KendaliDenotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab
kendali dalam kapal sedang mengalami gangguan.Konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)

- PanasDenotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.Konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling
beradu argumen. (panas=ketegangan)

- HancurDenotasi : Mainan anak pak lurah hancur terinjak mobil.Konotasi : Semua perkataannya kedengaran hancur akibat terbawa emosi .(hancur= tidak masuk
akal).

- ArusDenotasi : Adik terseret arus yang sangat deras saat menyeberang sebuah sungai di tepi rumahnya.Konotasi : Arus balik pada lebaran tahun depan diprediksikan akan lebih banyak dibandingkan tahun
kemarin. (arus=sistem)

- HangusDenotasi : Bau hangus itu dihasilkan dari pembakaran sisa-sisa plastik dan kertas yang ada di tepi jalan
itu.Konotasi : Semua dana yang dianggarkan telah hangus akibat program kerja yang tidak tertata denganrapi. (hangus=ludes)

Dan tentu saja masih banyak lagi ragam denotasi dan konotasi yang di miliki bahasa indonesia.

Special Thanks Prefer to :
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/DIKSI_ATAU_PILIHAN_KATA_power_point.pdf
http://ani-yunita.blogspot.com/2013/10/diksi-atau-pemilihan-kata.html

Minggu, 05 Oktober 2014

Ragam Bahasa Dan Media Pengungkapan


RAGAM BAHASA

  Ragam merupakan sebuah kata dasar yang merupakan salah satu kata sifat. Ragam kata lainnya adalah rupa, namun jika menggunakan imbuhan Ber- pada awalan menjadi Beragam, maka pendefinisian artinya menjadi hal yang berbeda-beda jenisnya. Jadi maksud dari ragam bahasa ialah variasi atau jenis-jenis bahasa dari pemakai bahasa itu sendiri. Jenis yang dimaksudkan ini berbeda-beda, bisa berbentuk dialek,, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosialinguistik lain, termasuk bahasa baku itu sendiri. Dalam bahasa sehari-hari kita, perbedaan-perbedaan yang menonjol itu biasa disebut juga sebagai logat.

  Ada 3 faktor yang menyebabkan perbedaan ragam bahasa, yakni :

1. Perbedaan Wilayah
   Wilayah sangatlah berpengaruh terhadap keragaman bahasa yang terjadi. contohnya di negara Indonesia sendiri saja berbahasa resmi bahasa indonesia, namun setiap daerah di indonesia memiliki keaneka ragaman yang berbeda-beda di setiap daerahnya. misal orang jawa barat dengan bahasa sunda, orang medan dengan bahasa batak, dan lain-lain.

2. Perbedaan Demografi
    Kita pernah belajar teori pengetahuan sosial yang mengatakan bahwa penduduk wilayah bagian dekat pantai cenderung lebih berani di bandingkan dengan penduduk daerah pegunungan, hal ini berlaku juga untuk faktor yang membuat keanekaragaman bahasa dimana orang pegunungan yang tenang cenderung berbicara lebih sedikit dengan intonasi volume yang rendah, sedangkan bagian pantai cenderung berbicara banyak dengan intonasi volume yang lebih kencang, dikarenakan ketika berkomunikasi haruslah mengalahkan kerasnya suara ombak.

3. Perbedaan Adat Istiadat
   Keyakinan terhadap adat istiadat yang di percayai turun menurun sejak zaman nenek moyang merupakan salah satu faktor yang membuat adanya keanekaragaman bahasa, mereka berusaha melestarikan budaya yang diturunkan nenek moyangnya masing-masing agar tidak punah.

MEDIA PENGUNGKAPAN

Cara pengungkapan merupakan suatu media dimana orang-orang dapat berkomunikasi. Cara pengungkapan ini dapat berbentuk :

 1. Ragam Bahasa Lisan
    Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (speech) yang meliputi tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan intonasi suara rendah atau tinggi yang dapat diatur sesuai emosi dan etika berbicara yang berlaku, pembicara juga bisa mengaplikasikan dengan isyarat lain seperti gerak tangan atau expressi wajah.

    Kelebihan ragam bahasa lisan dapat dilihat dari hal-hal kecil seperti fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, objek tidak selalu dinyatakan. unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. Bahasa lisan juga lebih ekspresif dimana mimik, intonasi, dan gerak tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk  mendukung komunikasi yang dilakukan.

      Kelemahan ragam bahasa lisan dapat terasa karena ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu. contohnya ketika diruang kuliah akan membicarakan hal dimana akan terjadi diruang itu saja, begitu juga ketika diskusi kelompok, orang luar selain kelompok yang tidak ikut diskusi tidak akan memahami apa yang di diskusikan oleh kelompok tersbeut.

 2. Ragam Bahasa Tulis
    Ragam bahasa tulis pada dasarnya memanfaatkan tulisan dengan dasar huruf, Dalam ragam tulis kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) disamping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengumpulkan ide.

    Kelebihan ragam tulis selalu bebas dari ikatan situasi, kondisi, ruang, dan waktu. Penulis tidak selalu ekspersif dengan perasaan yang dialaminya ketika menulis, sehingga pembaca tidak akan tau emosi yang dikeluarkan oleh penulis dan hanya fokus pada inti dari informasinya. Ragam tulis yang tersedia juga dapat disebar luaskan kepada siapa saja atau bisa juga di abadikan menjadi sebuah buku yang dilakukan oleh penulis-penulis terkenal.

     Kelemahan ragam ini terlihat ketika melakukan penulisan, dimana ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap dari pada ragam lisan. Terang yang dimaksud adalah membuat pembaca mampu berimajinasi dan mengerti maksud yang disampaikan melalui tulisan, dan lengkap itu mencakup fungsi-fungsi gramatikalnya yang harus lengkap karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara.

Berdasarkan media pembicaraan, ragam bahasa dibedakan atas:

1. Ragam lisan yang antara lain meliputi:
  • Ragam bahasa cakapan
  • Ragam bahasa pidato
  • Ragam bahasa kuliah
  • Ragam bahasa panggung
2. Ragam tulis yang antara lain meliputi:
  • Ragam bahasa teknis
  • Ragam bahasa undang-undang
  • Ragam bahasa catatan
  • Ragam bahasa surat

Jika menelaah fungsi bahasa sebagaialat komunikasi tentu tidak bisa dilepaskan dari individu atau perorangan yang berkomunikasi dalam masyarakat suatu kebudayaan, dan pendidikan.

A. Fungsi Perorangan
Fungsi perorangan ini diuraikan berdasarkan kajian Halliday (1976).
Klasifikasi fungsi bahasa perorangan ini didasarkan pada observasi terusmenerus
terhadap penggunaan bahasa oleh anaknya sendiri. Klasifikasi
fungsi perorangan bahasa anak ada enam dan setelah lebih dari tiga tahun
bertambah satu lagi. Berikut ketujuh fungsi bahasa perorang diurutkan sesuai
dengan tahap penguasaannya.

B. Fungsi Kemasyarakatan
Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus suatu
bahasa dalam kehidupan bermasyarakatan. Klasifikasi bahasa berdasarkan
fungsi kemasyarakatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu berdasarkan
ruang lingkup dan bidang pemakaiannya.

C. Fungsi Kebudayaan
Fungsi bahasa dalam kebudayaan adalah (1) sarana perkembangan
kebudayaan, (2) jalur penerus kebudayaan, dan (3) inventaris ciri-ciri
kebudayaan. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan dan bahasalah yang
memungkinkan pengembangan kebudayaan (secara filogenetik). Dalam
hubungannya dengan perorangan, anggota kebudayaan, (secara
ontogenetik=terjadinya kebudayaan), seseorang belajar dan mengetahui
kebudayaan kebanyakan melalui bahasa, artinya seseorang belajar hidup
dalam suatu kebudayaan melalui danb dengan bantuan bahasa. Suatu
kebudayaan dilahirkan dalam perorangan kebanyakan dengan bantuan
bahasa.

D. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan bahasa lebih banyak didasarkan pada tujuan
penggunaan bahasa dalam pendidikan dan pengajaran. Fungsi pendidikan
bahasa dibagi menjadi empat, yaitu fungsi integratif, instrumental, kultural,
dan penalaran.

Special Thanks Prefer To :

http://echanfebriharvandha.blogspot.com/2012/10/ragam-bahasa-cara-cara-pengungkapan.html

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/10/ragam-variasi-bahasa/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa

http://gurumuda.com/bse/fungsi-bahasa-seni-dan-agamareligikepercayaan
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates