Pages

Ads 468x60px

Rabu, 30 Maret 2016

Isu Profesionalisme Wartawan

Pada kesempatan kali ini penulis akan mengomentari pada sebuah kasus isu profesionalisme dan kode etik wartawan yang ditulis oleh Istiqomah Ridloti, dengan kode penulisan Istiqoma Ridloti -6662110572 -5E / Jurnalistik –Penulisan Artikel (UAS)


Setiap bentuk informasi yang kita dapat dari media-media massa, tentunya itu tidak lepas dari jasa seorang wartawan. Entah itu informasi mengenai politik, hiburan, dan lain sebagainya. Wartawan bertugas untuk mencari dan menyebarkan berita sesuai dengan fakta yang terjadi dan kaidah-kaidah jurnalistik. Lalu bagaimana dengan wartawan yang bergerak di bidang infotainment yang selalu menyajikan berita-berita sensasional dan terkadang melanggar kaidah-kaidah serta kode etik jurnalistik. Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas wartawan infotainment, ada baiknya kita mengetahui apa itu wartawan dan wartawan infotainment.


Wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1996 Pasal 1 dan 3 dengan jelas disebutkan bahwa: “ Kewartawanan ialah pekerjaan/ kegiatan/ usaha yang berhubungan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyiaran dalam bentuk fakta, pendapat, ulasan, gambar-gambar dan lain-lain sebagainya untuk perusahaan, radio, televisi dan film”.

Infotainment merupakan gabungan kata dari infotainment dan entertainment. Sama halnya dengan wartawan lainnya, jika wartawan lainnya memberikan informasi publik,  seperti berita politik, kasus korupsi, ekonomi, dan lain sebagainya, wartawan infotainment juga bertugas mencari berita dan disuguhkan kepada khalayak. Hanya yang berbeda dari mereka adalah wartawan infotainment menyajikan hiburan berupa berita mengenai kehidupan orang-orang yang terkenal, terutama yang bekerja pada dunia industri hiburan seperti pemain sinetron, pemain film, penyanyi, dan lain sebagainya. Infotainment memiliki ciri khas penyampaian yang unik.


Infotainment awalnya bermula dari John Hopkins University (JHU), Baltimore, Amerika Serikat. Universitas ini terkenal dengan riset kedokterannya dan aktivisme sosialnya di negara-negara berkembang. Untuk mendukung sukses misi kemanusiaan JHU di bidang kesehatan, JHU membuat konsep yang dapat mengubah perilaku secara positif. Dari konsep tersebut menghasilkanlah infotainment.


Namun infotainment sekarang ini, lebih mendorong kepada hal-hal yang cenderung negatif. Seperti menyebarkan informasi yang tidak benar atau gosip, dan juga cara pencarian beritanya sering kali melanggar kaidah-kaidah serta kode etik jurnalistik. Hampir semua stasiun televisi menyajikan informasi mengenai kehidupan seorang selebriti. Tayangan infotainment selalu muncul berbarengan dengan adanya produksi sinetron, dan lain sebagainya. Infotainment dijadikan sebagai alat pendongkrak popularitas bagi para selebriti.

Wartawan infotainment selalu dikejar oleh deadline dari perusahaan, mengingat tugasnya adalah mencari berita seputar kehidupan artis, menjadikannya kurang atau tidak mematuhi kaidah-kaidah serta kode etik jurnalistik.Wartawan infotainment sering dianggap melanggar hak kehidupan seseorang atau biasa kita sebut privasi. Karena wartawan infotainment selalu menerobos kode etik jurnalistik dalam menghormati privasi seseorang di setiap siarannya. 


Wartawan infotainment terkadang mencari-cari kesalahan dalam pembuatan berita. Melebih-lebihkan permasalahan seseorang atau dramatisasi, dan juga bisa menjadi api dalam sebuah permasalahan, seperti kasus yang baru-baru ini  melibatkan putra Ahmad Dhani dengan seorang pengacara. Bahkan hingga KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) melayangkan peringatan kepada salah satu stasiun televisi swasta yang hampir setiap hari menyajikan berita antara putra Ahmad Dhani dengan seorang pengacara tersebut. 


Wartawan infotainment terkadang suka membesar-besarkan masalah pada permasalahn yang tidak patut untuk di besar-besarkan, karena itu hanya akan memicu kemelut suatu permasalahan yang baru bagi kedua belah pihak.


Wartawan infotainment bahkan tidak di anggap oleh beberapa Aliansi, seperti Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), karena mereka tidak menyebarkan informasi publik. Permasalahannya adalah untuk menyandang profesi wartawan, dalam UU No 40/99 Pasal 7(2) menyatakan bahwa “ wartawan memiliki dan menaati kode etik jurnalistik”.


Sebagian besar wartawan infotainment banyak yang tidak mematuhi dan sering mengabaikan kode etik jurnalistik. Jika kita cermati, dalam penayangan berita infotainment sering kali lebih banyak menonjolkan maalah-masalah pribadi selebritis. Sehingga infotainment tersebut berisikan gosip belaka dan bukan fakta, serta isu-isu yang terjadi pada seseorang. Membuat pemikiran seseorang terhadap orang tersebut menjadi negatif atau lain sebagainya. 


Seperti teori agenda setting sesuai dengan pemikiran peneliti yang menduga bahwa peran media massa cukup besar untuk mempengaryhu pikiran khalayak melalui penekanan berita yang disampaikan. Media massa digunakan sebagai alat untuk mengonstruksi area kognitif audiensnya sehingga mereka mau mengubah pandangan-pandangan yang dianut ataupun meneriman perspektif baru.


Media infotainment selalu mengulang-ngulang berita gosip, maka akan menumbuhkan pandangan baru bagi khalayak kepada sang selebriti.
Memang gemerlap kehidupan seorang selebriti selalu mengundang ketertarikan khalayak. Tapi itu tidak sepatutnya di tayangkan jika sudah mulai melanggar privasi. Privasi seorang selebriti selalu menjadi sorotan yang paling ampuh bagi wartawan infotainment. Ini mengundang ketidak nyamanan bagi semua pihak. Berita yang ditampilkan infotainment selalu mengenai permasalahan kawin, cerai, masalah percintaan, bahkan hingga konflik keluarga sang artis pun turut menjadi makanan bagi pemburu berita yang bergerak di bidang infotainment, bahkan wartawan infotainment lebih tau segalanya dibanding siapa pun.


Permasalahan yang seharusnya tidak boleh dimunculkan, malah dimunculkan. Terkadang sang artis sendiri merasa risih jika privasi nya sudah di bongkar oleh wartawan infotainment. Banyak artis yang melaporkan wartawan infotainment kepada pihak kepolisian karena merasa hak-haknya diambil oleh mereka.


Maka dari itu, beberapa aliansi atau lembaga masih memperdebatkan status wartawan infotainment sebagai wartawan karena belum mematuhi kode etik jurnalistik.Seharusnya sebagai wartawan harus bisa bersikap profesional dan juga lebih memahami kode etik atau etika seorang jurnalis.


Memahami dan menaati kode etik bisa membuat seorang pemburu berita atau wartawan menjadi lebih terorganisir dan terkendali, menjadi lebih profesional dalam pencarian beritanya.


Pada kalimat terakhir dituliskan bahwa beberapa aliansi masih memperdebatkan status dari wartawan infotaimen, menurut saya perdebatan ini seharusnya diimbangi dengan adanya sebuah penyuluhan terhadap wartawan infotaiment itu sendiri. Tidak semua wartawan infotaiment tidak memperdulikan atau mengabaikan kode etik, mungkin masih ada sebagian kecil wartawan infotaiment yang tetap mementingkan profesionalismenya. Sangat disayangkan jika sebagian kecil yang masih tetap berada didalam jalur tersebut diabaikan, akan lebih baik jika mereka yang keluar jalur diberikan peringatan secara baik baik terlebih dahulu.

Memang benar jika wartawan seharusnya mengolah fakta yang telah ada tanpa melebih-lebihkannya. Terkadang wartawan infotaiment melebih-lebihkan suatu kenyataan untuk menaikkan rating dari acara yang akan dijalankannya, hal itu bisa juga membuatapa yang ditangkap oleh fikiran masyarakat menjadi berbeda dengan kejadian yang sesungguhnya. Beberapa menjadi terlihat lebih baik, sehingga masyarakat menjadi perduli. Namun, beberapa ada yang menjadi pencitraan buruk terhadap sesuatu yang seharusnya biasa saja.

Penulisan diatas sudahlah lengkap dengan penjabaran dari definisi hingga tugas yang seharusnya dilakukan wartawan, namun hampir keseluruhan isi tulisan mengupas tentang keburukan dari wartawan infotaimen tanpa ada unsur kebaikan nya sedikitpun. Sebaiknya isu profesionalitas dikupas secara seimbang baik dan buruknya pekerjaan yang dilakukan. Sehingga masyarakat dapat menilai sendiri bagaimana sebuah profesi yang telah berjalan.

Sumber : http://www.kompasiana.com/istiridloti/profesionalisme-wartawan-infotainment_552e13ac6ea834f9338b457d

*mohon maaf jika ada kesalahan pada penulisan/pemberian komentar. Penulis hanyalah mahasiswa yang masih belajar.

Minggu, 17 Mei 2015

PARAGRAF BERPOLA DEDUKTIF & INDUKTIF


  1. PARAGRAF DEDUKTIF
  • Pengertian
Paragraf deduktif adalah paragraf yang berpola kalimat umum ke khusus, artinya paragraf yang didahului dengan kalimat umum kemudian dikembangkan dengan kalimat penjelas. Pembahasan mengenai tentang jenis paragraf yang satu ini biasanya kita jumpai dalam pelajaran Bahasa Indonesia, mulai dari SD sampai SMA bahkan beberapa perguruan tinggi masih membahas. Contoh-contoh paragraf deduktifpun bisa kita temukan di berbagai penyedia artikel seperti internet, majalah, dan koran.

  • Ciri-ciri Paragraf Deduktif
Ciri dari paragraf deduktif antara lain
a. Kalimat utama berada di awal paragraf
b. Kalimat utama disusun dari pernyataan umu yang kemudian disusul dengan penjelasan

  • Paragraf Berpola Deduktif
1. Negara adalah institusi mapan, terapi tetap dinamis sehingga mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Negara mewadahi seluruh kepentingan masyarakat bangsa. Ia hanya menyediakan kerangka umum yang bersifat abstrak, sehingga terbuka untuk ditafsirkan. Sementara perintah adalah pranata kontemporer, sebagai penyelenggara negara dalam waktu yang ditetapkan oleh konstitusi negara.

2. Kebersihan sangat menjadi masalah di sekolah. Ini terjadi karena banyak murid-murid yang tidak sadar akan kebersihan. Pihak sekolah pun seperti guru-guru telah menghimbau dan mengajarkan kepada muridnya betapa penting kebersihan itu. Perhatian akan kebersihan disekolah harus lebih ditingkatkan karena "Kebersihan adalah sebagian dari iman".

3. Pos kesehatan di pasar itu memang dikhususkan melayani pedagang dan pembeli. Pedagang tidak akan khawatir meninggalkan dagangannya karena hanya akan berobat di kawasan pasar. Mereka dapat antre saat dagangannya sepi dari pembeli. "Kebanyakan periksa gula darah dan rematik, mayoritas pasiennya berusia tua", papar siti.

4. Maka dari itu saya sangat setuju dengan adanya kegiatan kerja bakti seminggu sekali. Karena, jika lingkungan hidup bersih maka kita juga akan sehat. Maka dari itu, kegiatan kerja bakti juga sangat penting di lingkungan sekolah. Menciptakan suasana yang bersih dan asri juga berperan penting dalam kesehatan dari lingkungan tersebut.

5. Kemacetan sudah menjadi hal yang biasa di kota jakarta. Kemacetan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain. Pertama, jumlah kendaraan yang ada di jakarta tidak seimbang dengan luasnya jalan. Kedua, kurangnya kedisiplinan bagi semua pengguna jalan raya. Ketiga, kemunculan tempat tempat yang mengganggu lalu lintas seperti pasar, rel kereta api, pedagang kaki lima, halte yang tidak difungsikan, banjir dan sebagainya. Yang terakhir, ketidak tegasan aparat yang berwenang dalam menindak para pelanggar lalu lintas.

      2. PARAGRAF INDUKTIF
  • Pengertian
Paragraf induktif adalah kebalikan dari pada paragraf deduktif, polanya dimulai dari kalimat khusus lalu dirapatkan menuju kalimat umum. Kalimat utama pada paragraf induktif terletak pada bagian akhir paragraf. Paragraf ini diawali dengan kalimat-kalimat penjelas yang berupa fakta, contoh-contoh, rincian khusus maupun bukti bukti yang kemudian disimpulkan atau digeneralisasikan kedalam satu kalimat akhir paragraf.

  • Ciri-ciri Paragraf Induktif
a. Diawali dengan penjelasan penjelasan khusus.
b. Kemudian digeneralisasikan menjadi sebuah kesimpulan berdasarkan penjelasan penjelasan khusus.
c. Kesimpulan yang merupakan kalimat utama terdapat di akhir paragraf.

  • Paragraf Berpola Induktif
1. Setelah ujian anak-anak diperiksa, ternyata nilai mereka beragam. Sebanyak 20 siswa nilainya melebihi standar kelulusan. 10 siswa mendapat nilai tepat pada standar kelulusan, dan tidak seorangpun yang mendapat nilai dibawah standar. Bisa dikatakan kegiatan belajar di kelas ini cukup berhasil. (Pola Generalisasi

2. Belajar dimasa tua membutuhkan usaha yang ekstra dikarenakan daya tangkap yang dimiliki pada masa ini sudah sangat berkurang. Bahkan motivasi yang dimiliki juga sudah sangat melemah karena terlalu banyak pikiran yang mengganggu. Itulah mengapa dikatakan belajar di waktu tua seperti melukis diatas air. (Pola Analogi)

3. Saat ini kita sudah memasuki musim penghujan. Banyak sampah yang menumpuk akibat kita sering membuang sampah sembarangan. Terlebih lagi, mendangkalnya permukaan sungai saat ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banjir selalu datang setiap hari. (Pola Sebab-akibat)

4. Andi suka menolong setiap orang. Dia selalu ramah kepada siapapun. Tidak seperti adiknya anto yang suka menjahili orang. Anto terkenal karena kenakalannya dibandingkan denga prestatsinya. Itulah mengapa kedua saudara ini mendapatkan perlakuan yang berbeda dari teman-temannya. (Pola Perbandingan)

5. Peternakan merupakan aspek perekonomian yang penting dan menjanjikan. Selain dapat menjadi lahan pendapatan, peternakan juga memiliki dampak positif meningkatkan gizi masyarakat. Pengembangan peternakan dapat memenuhi kebutuhan daging warga sehingga negara tidak perlu mengimpor daging dari luar. Pertanian juga merupakan aspek perekonomian yang penting. Pengembangan pertanian dapat memenuhi kebutuhan beras warga sehingga impor dari luar tidak diperlukan. (Pola Analogi)



SPECIAL THANKS PREFER TO :
http://rohmatullahh.blogspot.com/2013/09/pengertian-contoh-paragraf-deduktif.html
http://www.kelasindonesia.com/2015/02/definisi-contoh-kalimat-deduktif-induktif-dan-campuran-dalam-bahasa-indonesia.html?m=1
http://www.pustakasekolah.com/mengenal-teks-berpola-induktif.html

Selasa, 13 Januari 2015

KONVENSI NASKAH

1. PENGERTIAN

     Definisi dari konvensi itu sendiri adalah suatu tingkah laku atau ciri-ciri yang sudah disepakati dengan meluasnya dan dipatuhi. Naskah adalah suatu teks yang berisi aturan, alur  cerita di dalam suatu dialog (Penulisan sebuah naskah berdasarkan ketentuan, aturan yang sudah lazim dan sudah disepakati).

     Maka yang pengertian dari konvensi naskah itu sendiri merupakan sebuah penulisan naskah karangan ilmiah yang berdasarkan kebiasaan, aturan yang sudah lazim, dan sudah disepakati. Konvensi penulisan naskah yang sudah lazim mencangkup aturan pengetikan, pengorganisasian materi utama, pengorganisasian materi pelengkap, bahasa, dan kelengkapan penulisan lainnya.

2. Syarat Formal Penulisan Sebuah Naskah

    Dalam menyusun sebuah karangan perlu adanya pengorganisasian karangan. Pengorganisasian karangan adalah penyusunan seluruh unsur karangan menjadi satu kesatuan karangan dengan berdasarkan persyaratan formal kebahasaan yang baik, benar, cermat, logis: penguasaan, wawasan keilmuan bidang kajian yang ditulis secara memadai dan format pengetikan yang sistematis.

     Persyaratan formal (bentuk lahiriah) yang harus dipenuhi sebuah karya menyangkut tiga bagian utama, yaitu: Bagian pelengkap pendahuluan, isi karangan, dan bagian pelengkap penutup.

3. Unsur-unsur Penulisan Sebuah Karangan

   A. Bagian Pelengkap Pendahuluan
  • Judul Pendahuluan
   Judul pendahuluan adalah nama karangan. Halaman judul pendahuluan tidak mengandung apa-apa kecuali mencantumkan judul karangan atau judul buku. Judul karangan atau judul buku ditulis dengan huruf kapital. Biasanya letaknya di tengah halaman agak ke atas. Namun, variasi-variasi lain memang kerap sekali dijumpai.Dalam pembuatan sebuah makalah atau skripsi, halaman judul mencantumkan nama karangan, penjelasan adanya tugas, nama pengarang (penyusun), kelengkapan identitas pengarang (nomor induk/registrasi, kelas, nomor absen), nama unit studi (unit kerja), nama lembaga (jurusan, fakultas, unversitas), nama kota, dan tahun penulisan. Judul yang dibuat harus meyakinkan untuk menarik pembacanya.
  • Halaman Judul
   Halaman judul biasa berisi tentang nama karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, kelengkapan identitas pengarang, nama unit studi, nama lembaga, nama kota dan tahun penulisan.
  • Halaman Persembahan 
Halaman persembahan merupakan bagian yang tidak terlalu penting dan jarang melebihi satu halaman, biasanya terdiri dari beberapa kata saja. Ditempatkan berhadapan dengan halaman belakang judul buku, atau berhadapan dengan halaman belakang cover buku, atau juga menyatu dengan halaman judul buku.
  • Halaman Pengesahan
  Halaman pengesahan digunakan sebagai pembuktian bahwa karya ilmiah yang telah ditanda-tangani oleh pembimbing, pembaca/penguji, dan ketua jurusan telah memenuhi persyaratan administratif sebagai karya ilmiah.Judul skripsi seluruhnya ditulis dengan huruf kapital pada posisi tengah antara margin kiri dan kanan. Nama lengkap termasuk gelar akademis pembimbing materi/teknis, pembaca/penguji, dan ketua program jurusan di tulis secara benar dan disusun secara simetri kiri-kanan dan atas-bawah. Nama kota dan tanggal pengesahan ditulis di atas kata ketua jurusan.

Berikut ini ada beberapa hal yang harus dihindarkan dalam sebuah halaman :

- Menggaris-bawahi nama dan kata-kata lainnya.

- Menggunakan titik atau koma pada akhir nama.

- Tulisan melampaui garis tepi 

- Menulis nama tidak lengkap

- Menggunakan huruf yang tidak standar

- Tidak mencantumkan gelar akademis

  • Kata Pengantar
   Kata pengantar merupakan bagian karangan yang berisi penjelasan mengapa menulis sebuah karangan. Sifatnya formal dan ilmiah. Isi kata pengantar tidak menyajikan isi karangan atau hal-hal lainnya yang tertulis dalam pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan.
Sebaliknya, apa yang sudah tertulis dalam kata pengantar tidak di tulis ulang dalam isi karangan. Setiap karangan ilmiah harus menggunakan kata pengantar.
Di dalamnya disajikan informasi sebagai berikut :

- Ucapan syukut kepada Tuhan YME

- Penjelasan adanya tugas penulisan karaya ilmiah (untuk skripsi, tesis, atau laporan formal ilmiah)

- Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, atau laporan formal ilmiah)

- Penjelasan adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekelompok orang, atau organisasi/lembaga

- Ucapan terima kasih kepada seseorang, sekelomopok orang, atau organisasi yang membantu

- Penyebutan nama kota, tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis, tanpa dibubuhi tanda tangan

- Harapan penulis atas karangan tersebut

- Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima saran dan kritik


Ada beberapa hal pula yang harus dihindarkan pada penulisan kata pengantar, yaitu :

- Menguraikan isi karangan

- Mengungkapkan perasaan berlebihan 

- Menyalahi kaidah bahasa

- Menunjukkan sikap kurang percaya diri

- Kurang meyakinkan 

- Kata pengantar terlalu panjang

- Menulis kata pengantar semacam sambutan

- Kesalahan bahasa: ejaan, kalimat, paragraf, diksi, dan tanda baca tidak efektif

  • Daftar Isi
   Daftar isi adalah bagian pelengkap pendahuluan yang memuat garis besar isi karangan ilmiah secara lengkap dan menyeluruh, dari judul sampai dengan riwayat hidup penulis yang berfungsi untuk merujuk nomor halaman dan tersusun secara konsisten dengan baik. Konsistensi ini dipengaruhi oleh bentuk yang digunakan.
  • Daftar Gambar
   Bila dalam buku itu terdapat gambar-gambar , maka setiap gambar yang tercantum dalam karangan harus tertulis didalam daftar gambar. Daftar gambar menginformasikan: judul gambar dan nomor halaman
  • Daftar Tabel
   Bila dalam buku itu terdapat tabel-tabel, maka setiap tabel yang tertulis dalam karangan harus tercantum dalam daftar tabel. Daftar tabel ini menginformasikan: nama tabel, dan nomor halaman.

    B. Bagian Isi Karangan
  • Pendahuluan
   Pendahuluan adalah bab 1 karangan. Pendahuluan bertujuan menarik perhatian pembaca, dengan menginformasikan masalah apa yang akan dibahas dari bab awal hingga akhir. Pendahuluan terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan pembahasan, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode pembahasan.
   Untuk menulis pendahuluan yang baik, penulis perlu memperhatikan pokok-pokok yang harus tertunang dalam masing-masing unsur pendahuluan sebagai berikut:

   - Latar belakang masalah
   - Tujuan penulisan berisi target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai
   - Ruang lingkup masalah berisi pembatasan masalah yang akan dibahas
   - Landasan teori
   - Sumber data penulisan berisi data-data yang bersesuaian dengan pembahasan
  - Metode dan teknik penulisan berisi penjelasan metode yang digunakan dalam               pembahasan dan teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data
  - Sistematika penulisan berisi gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan
  • Tubuh Karangan (isi)
   Tubuh karangan atau bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian pembahasan masalah dan disinilah terletak segala permasalahan yang akan dibahas secara sistematis. Bagian menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara tuntas.

   Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur sebagai berikut :
   - Ketuntasan Materi
   Materi yang baik dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoritik) maupun data primer.
   - Kejelasan Uraian / deskripsi
   Memiliki Sub-sub yang terdiri atas kejelasan konsep, kejelasan bahasan dan kejelasan penyajian dan fakta.

Hal-hal yang harus di hindarkan dalam tubuh karangan :
- Subjektivitas
- Pembuktian pendapat tidak mencukupi
  • Kesimpulan
   Kesimpulan merupakan bagian penutup karangan dan merupakan suatu intisari dari karangan mulai dari bab awal hingga akhir.
   Penulis dapat menuliskan kesimpulan dengan dua cara :
   - Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif, dapat dibuat ringkasan argumen yang penting yang sejalan dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
   - Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu.


    C. Bagian Pelengkap Penutup
  • Daftar Pustaka
   Daftar pustaka adalah daftar yang berisi judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian dengan sebuah atau sebagian karangan. Setiap karangan harus menggunakan daftar pustaka.
   Unsur-unsur daftar pustaka meliputi :

   - Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan menggunakan koma
   - Tahun terbit
   - Judul buku: penulisannnya berctak miring
   - Data publikasi , meluputi tempat/kota teerbit , dan penerbit
   - Untuk sebuah aritikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilifd, nomor, dan tahun terbit

   Contoh :
   - Jika buku itu disusun oleh duan pengarang, nama pengarang yang kedua tidak perlu di balik
   - Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk menggantikan nama pengarang
 - Jika buku itu merupakan editorial(bunga rampai), nama editor yang dipakai dan dibelakangnya diberi keteragan ed. "editor"
   - Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan
 - Daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal dan nama belakang pengarang

  • Lampiran
  Lampiran (apendix) merupakan suatu bagian penutup pelengkap yang fungsinya terkadang tumpang tindih dengan catatan kaki. Penyajian dalam bentuk lampiran agar tidak menggangu pembahasan jika disertakan dalam urusan.
  • Index
  Indeks adalah daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara alfabetis.
  • Riwayat Hidup Penulis
   Buku, skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi menuntut daftar RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup meurupakan gambaran kehidupan penulis atau pengarang.




SPECIAL THANKS PREFER TO :
  • http://echanfebriharvandha.blogspot.com/2012/11/konvensi-naskah.html
  • http://rezaprasetyo08.wordpress.com/2012/11/26/konvensi-naskah/
  • http://ati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/19584/Konvensi+Naskah.doc.
  • http://mintrizky.blogspot.com/

Selasa, 30 Desember 2014

KUTIPAN & Daftar Pustaka vs Catatan Kaki


  • KUTIPAN
   Kutipan adalah pinjaman pendapat dari seseorang pengarang atau ucapan seseorang yang terkenal, baik yang terdapat dalam buku-buku maupun majalah. Walaupun kutipan atas pendapat seorang ahli itu diperkenankan, bukan berarti bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri dari kutipan-kutipan. Penulis harus bisa menahan dirinya untuk tidak terlalu banyak mempergunakan kutipan agar karangannya tidak dianggap sebagai himpunan berbagai macam pendapat. Kutipan biasanya digunakan sebagai barang bukti untuk menunjang pendapat yang dikeluarkan oleh penulis.

  • JENIS - JENIS KUTIPAN
   Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli. Sebaliknya kutipan tak langsung adalah pinjaman pendapat seseorang pengarang atau tokoh terkenal berupa inti sari dari pendapat tersebut. Ada juga beberapa kutipan lain menurut pendapat para ahli.

  1. Kutipan Langsung

      Kutipan Langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya,tidak boleh ada perubahan.Kalau ada hal yang dinilai salah/meragukan,kita beri tanda ( sic! ),yang artinya kita sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu.Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [ huruf miring dari pengutip ],[ ejaan disesuaikan dengan EYD ],dll. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ ….. ].

  2. Kutipan Tidak Langsung
     Dalam kutipan tidak langsung kita hanya mengambil intisari pendapat yang kita kutip.Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki,dapat juga dengan sistem catatan langsung ( catatan perut ) seperti telah dicontohkan.

  3. Kutipan Pada Catatan Kaki

  4. Kutipan Atas Ucapan Lisan

  5. Kutipan Dalam Kutipan

  6. Kutipan Langsung Dalam Materi


   Setiap kutipan haruslah jelas dasar sumbernya dan jelas asal muasal kalimat yang dikutip tersebut, sebagaimana biasanya sumber pada kutipan biasa ditulis di lembaran akhir penutup atau yang biasa disebut juga sebagai daftar pustaka, atau ada juga yang menaruh pada bagian bawah halaman tersebut agar langsung dapat dilihat oleh pembaca. Cara yang kedua itu biasa disebut juga sebagai catatan kaki.

  • DAFTAR PUSTAKA
  Daftar pustaka (bibliografi) merupakan sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikelartikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan. Melalui daftar pustaka yang disertakan pada akhir tulisan, para pembaca dapat melihat kembali pada sumber aslinya.


==> Tujuan

    Fungsi sebuah Daftar Pustaka hendaknya secara tegas dibedakan dari fungsi sebuah catatan kaki. Referensi pada catatan kaki dipergunakan untuk menunjuk kepada sumber dan pernyataan atau ucapan yang dipergunakan dalam teks. Sebab itu referensi itu harus menunjuk dengan tepat tempat. dimana pembaca dapat menemukan pernyataan atau ucapan itu. Dalam hal ini selain pengarang, judul buku dan sebagainya. harus dicantumkan pu/a nomor halaman di mana pernyataan atau ucapan itu bisa dibaca. Sebaliknya sebuah Daftar Pustaka memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secara keseluruhan. Karena itu fungsi catatan kaki dan Daftar Pustaka seluruhnya tumpang-tindih satu sama lain.

  ==> Unsur-unsur Daftar Pustaka
    Untuk persiapan yang baik agar tidak ada kesulitan dalam penyusunan bibiografi itu, tiap penulis harus tahui pokok-pokok mana yang harus dicatat. Pokok yang paling penting yang harus dimasukkan dalam sebuah daftar pustaka (bibliografi) adalah:
  1. Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap.
  2. Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
  3. Data publikasi : penerbit , tempat terbit , tahun terbit , cetakan keberapa , nomor jilid , dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
  4. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan , nama majalah , jilid. nomor dan tahun:


  • CATATAN KAKI
   Catatan Kaki adalah keterangan dari sumber kutipan yang di tempatkan langsung di belakang kutipan. Bila keterangan semacam itu ditempatkan pada akhir bab atau akhir keteranang, maka catatan atau keterangan semacam itu disebut keterangan saja. Semua kutipan harus ditunjukan sumbernya dalam sebuah catatan kaki. Catatan kaki dapat juga untuk memberi keterangan lain tentang teks.

  ==> Tujuan

1. Menyusun Pembuktian
    Semua dalil atau pernyataan yang penting,yang bukan merupakan pengetahuan umum harus didukung oleh pembuktian-pembuktian. Catatan kaki menunjukan kebenaran-kebenaran yang pernah dicapai oleh seorang pengaran lain dalam bukunya atau tulisan-tulisannya.Sebab itu referensi atau penunjukan dalam catatan kaki dimaksudkan untuk menunjukan tempat atau sumber dimana suatu kebenaran telah dibuktikan oleh orang lain.


2. Menyatakan Hutang Budi
    Penunjukan sumber pada catatan kaki dimasukan pula untuk menyatakan hutang budi kepada pengarang yang dikutip pendapatnya. Dengan menyebut nama pengarang yang dikutip pendapatnya itu,penulis telah menyatakan hutang budi kepadanya.


3. Menyatakan Keterangan Tambahan
    Catatan kaiki juga dimaksudkan sebagai keterangan tambahan untuk uraian. keterangan tambahan yang dimaksud dapat berupa :

  • Inti atau sari dari fragmen yang dipinjam.
  • Uraian teknis , keterangan insidental, atau materi yang memperjelas teks, atau informasi tambahan  terhadap topik yang disebut dalam teks.
  • Materi-materi penjelas yang kurang penting seperti perbaikan, atau pandangan-pandangan lain yang bertentangan.

4. Merujuk bagian lain dari teks
    Catatan kaki dapat juga dipergunakan untuk menyediakan informasi kepada bagian-bagian lain dari tulisan itu . Misalnya penulis memberi catatan agar pembaca melihat atau memeriksa utaian padahalaman sebelumnya,atau hal-hal yang akan diuraikan.



  ==> Jenis Catatan Kaki
  • Penunjukan sumber (referensi) : Menunjuk sumber tempat kutipan terdapat.
Referensi harus dibuat oleh penulis bila :
1. Mengambil kutipan langsung
2. Mengambil kutipan tak langsung
3. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri apa yang telah dibaca
4. Meminjam sebuah tabel,peta atau diagram dari suatu sumber
5. Menyusun sebuah diagram berdasarkan data-data yang diperoleh dari suatu sumber atau beberapa sumber
6. Menyajikan sebuah evidensi khusus, yang tidak dianggap sebagai pengetahuan umum
7. Menunjuka kembali kepada bagian lain dari karangan itu
  • Catatan penjelas
    Catatan penjelas adalah catatan kaki yang dibuat dengan tujuan untuk membatasi suatu pengertian,atau menerangkan dan memberi komentar terhadap suatu pernyataan atau pendapat yang dimuat dalam teks. Penjelasan ini harus dibuat dalam catatan kaki,dan tidak dimasukan kedalam teks.
  • Gabungan penunjukan sumber dan catatan penjelas

  • PERBANDINGAN
   Terlihat jelas pada pernyataan sebelumnya bahwasanya perbedaan dari daftar pustaka dan catatan kaki terletak pada penempatan dan cara penulisan sumber refrensi dari kutipan kutipan tersebut. Daftar pustaka haruslah dituliskan dibagian belakang yang disediakan dan terstruktur menurut kaidah yang telah ditetapkan. Catatan kaki dapat ditempatkan langsung dibelakang bagian yang diberi keterangan (catatan kaki langsung) dan diteruskan dengan teks.

SPECIAL THANKS PREFER TO
  • http://www.rumpunnektar.com/2014/02/cara-menulis-kutipan-dan-catatan-kaki.html
  • http://lytasapi.wordpress.com/2010/06/05/pengertian-fungsi-dan-jenis-kutipan/
  • http://shandy-06shihab.blogspot.com/2010/11/tujuan-daftar-pustakakutipan-dan.html

Senin, 29 Desember 2014

KERANGKA KARANGAN (OUTLINE)

  • Pengertian Outline
   Menurut Bahasa Indonesia, outline adalah kerangka, regangan, garis besar, atau guratan. Outline merupakan suatu rencana penulisan yang membuat garis garis besar dari suatu karangan yang akan digarap dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
   Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka karangan yang belum selesai disebut juga sebagai outline. Sementara kerangka karangan yang sudah jadi disebut outline final.

  • Manfaat dan Fungsi Outline
   Outline memiliki beberapa manfaat dan fungsinya seperti dibawah ini :
  1. Memudahkan penyusunan kerangka secara teratur sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan mencegah penulis keluar jalur dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik atau judul.
  2. Membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
  3. Dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan
  4. Memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan secara memberaikan kemungkinan bagi perluasan bagian-bagian tersebut sehingga membantu penulis menciptakan suasana yang berbeda-beda dengan fariasi yang diinginkan.  
  5. Pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu. 
  6. Membantu mengumpulkan data dan sumber-sumber yang diperlukan. 
  7. Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
   Outline juga berfungsi untuk :

  1. Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis.
  2. Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan.
  3. Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting. 

  • Syarat-syarat Outline
     1. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas.
Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang jelas, lalu buatlah tesis atau pengungkapan maksud.
     2. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan.
Bila pada satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit tersebut harus di rinci.
     3. Pokok-pokok pada kerangka harus disusun secara logis , sehingga rangkaian ide dan pikiran itu tergambar jelas
     4. Harus menggunakan simbol yang konsisten.
Pada dasarnya untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan. kali ini kita coba tinjau terlebih dahulu langkah-langkah menyusun karangan satu per satu.

  • Langkah-langkah Menyusun Outline
1. Menentukan Tema dan Judul
   Tema sangatlah berpangur terhadap wawasan penulis. Semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema. Namun, bagi para pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan, diantaranya :
  • Jangan mengambil tema yang bahasanya terlalu luas.
  • Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
  • Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita peroleh.
   Judul adalah perincian atau penjabaran dari topik yang lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variable yang akan dibahas. Berikut merupakan syarat-syarat judul :
  • Judul tidak harus sama dengan topik.
  • Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat umum dan ruang lingkupnya sangat luas.
  • Judul dibuat setelah selesai menggarap tema, sehingga bisa terjamin bahwa judul itu cocok dengan temanya.
  • Sebuah judul yang baik akan merangsang perhatian pembaca dan akan cocok dengan temanya.
  • Judul hanya menyebutkan ciri-ciri yang utama atau yang terpenting, sehingga pembaca sudah dapat membayangkan apa yang akan diuraikan pada karya itu.
  • Ada judul yang mengunkapkan maksud pengarang, misalnya dalam sebuah laporan eksposisi.
  2. Mengumpulkan Bahan
     Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan penulisan.
  Untuk membiasakan, kumpulkanlah kliping-kliping masalah tertentu (biasanya yang menarik penulis) dalam berbagai bidang dengan rapi. Hal ini perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam tulisan, penulis dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya. Banyak cara memngumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara masing-masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.

  3. Menyeleksi Bahan
   Agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. Berikut ini petunjuk-petunjuknya :
  • Hal penting semampunya.
  • Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
  • Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.
   4. Membuat Kerangka
   Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur. Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna. Berikut fungsi kerangka karangan :
  • Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis.
  • Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan.
  • Membantu menyeleksi materi yang penting maupun tidak penting.
   Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :
  • Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran(diagram yang menjelaskan gagasan-gagasan yang timbul).
  • Mengatur  urutan gagasan.
  • Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab.
  • Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap.
   Kerangka karangan yang baik ialah kerangka karangan yang urut dan logis. Karena bila terdapat ide yang bersilangan , akan mempersulit proses pengembangan karangan (karangan tidak mengalir).

   5. Mengembangkan Kerangka Karangan
    Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan materi yang hendak di tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang dikumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan. pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Begitu juga dengan pengembangannya.


SPECIAL THANKS PREFER TO :
  • http://coretanwnh.blogspot.com/2013/11/outline-kerangka-karangan.html
  • https://azizturn.wordpress.com/2009/11/21/kerangka-karangan/
  • http://www.slideshare.net/mutaqodaswaja/bab-tentang-karangka-karangan

Senin, 17 November 2014

TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

TOPIK

Kata topik berasal dari bahasa yunani yaitu topoi. Topik adalah inti utama dari seluruh isi tulisan yang hendak disampaikan. Topik merupakan hal pertama yang difikirkan penulis sebelum membuat tulisan, mulai dari awal kemudian akan dikembangkan dan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas. 

Terdapat beberapa kriteria untuk sebuah topik yang dikatakan baik, diantaranya adalah topik tersebut harus mencakup keseluruhan isi tulisan, yakni mampu menjawab pertanyaan akan masalah apa yang hendak ditulis. Ciri utama dari topik adalah cakupannya atas suatu permasalahan msih bersifat umum dan belum diuraikan secara lebih mendetail.


Topik biasa terdiri dari satu satu dua kata yang singkat, dan memiliki persamaan serta perbedaan dengan tema karangan. Persamaannya adalah baik topik maupun tema keduanya samasama dapat dijadikan sebagai judul karangan. Sedangkan, perbedaannya ialah topik masih mengandung hal yang umum, sementara tema akan lebih spesifik dan lebih terarah dalam membahas suatu permasalahan.


Cara Membatasi Topik :

Topik adalah segala yang ingin dibahas. Ini berarti, penulis sudah memilih apa yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan tersebut. Menurut Sabarti Akhadiah (1994: 211), ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam memilih topik:
  1. ada manfaatnya untuk perkembangan ilmu atau profesi
  2. cukup menarik untuk dibahas
  3. dikenal dengan baik
  4. bahannya mudah diperoleh
  5. tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit
Menurut Keraf (1979), rumusan topik sebagai berikut :
  1. Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
  2. Mengajukan Pertanyaan, apakah topik yang ada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut ? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu disekitar lingkaran topik pertama tadi.
  3. Tetapkanlah dari rincian tersebut apa saja yang akan dipilih.
  4. Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci atau tidak.

Syarat-syarat Topik Yang Baik :
  • Menarik untuk ditulis dan dibaca
Topik yang menarik bagi penulis akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan penulisannya, dan bagi pembaca akan mengundang minat untuk membacanya.
  • Dikuasai dengan baik oleh penulis minimal prinsip-prinsip ilmiah
Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis harus menguasai teori-teori (data sekunder), data di lapangan (data primer). Selain itu, penulis juga harus menguasai waktu, biaya, metode pembahasan, bahasa yang digunakan, dan bidang ilmu

Sumber Topik :
Tak jarang seorang penulis bingung saat menentukan apa yang hendak ia tulis, rasanya semua menarik dan banyak yang sudah ditulis orang sebenarnya banyak hal yang dapat dijadikan topik tulisan. Untuk membantu menentukan topik, seperti yang disampaikan Wayne N. Thompson dalam Rakhmat (1999:20), seorang penulis daat menemukan sumber topik dengan cara sebagai berikut.
  •  Pengalaman Pribadi
a. Perjalanan
b. Tempat yang pernah dikunjungi
c. Kelompok Anda
d. Wawancara dengan tokoh
e. Kejadian luar biasa
f. Peristiwa lucu
  • Hobi dan Keterampilan
a. Cara melakukan sesuatu
b. Cara kerja sesuatu
  • Pengalaman Pekerjaan atau Profesi
a. Pekerjaan tambahan
b. Profesi keluarga
  • Pelajaran Sekolah/Kuliah
a. Hasil-hasil penelitian
b. Hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut
  • Pendapat pribadi
a. Kritik terhadap buku, film, puisi, pidato, iklan, siaran radio /televisi
b. Hasil pengamatan pribadi
  • PeristiwaHangat dan Pembicaraan publik
a. Berita halaman muka surat kabar
b. Topik tajuk rencana
c. Artikel
d. Materi kuliah
e. Penemuan mutakhir
  • Masalah Abadi
a. Agama
b. Pendidikan
c. Sosial dan masyarakat
d. Problem pribadi
  • Kilasan Biografi
a. Orang-orang terkenal
b. Orang-orang berjasa
  • Kejadian khusus
a. Perayaan atau peringatan
b. Peristiwa yang eratkaitannya dengan perayaan
  • Minat Khalayak
a. Pekerjaan
b. Hobi
c. Rumah tangga
d. Pengembangan diri
e. Kesehatan dan penampilan
f. Tambahan ilmu
g. Minat khusus


TEMA
Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis.

Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah atapnya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan.
Ciri-ciri Tema :
  1. Dalam novel dan cerpen, tema biasanya dapat dilihat melalui persoalan yang dikemukakan.
  2. Tema juga dapat dilihat melalui cara-cara watak itu bertentangan satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan.
  3. Tema dapat dikesan melalui peristiwa, kisah, suasana dan unsur lain seperti nilai kemanusiaan yang terdapat dalam cerita, plot cerita, perwatakan watak-watak dalam sebuah cerita.
Syarat-syarat Tema Yang Baik :

  • Tema menarik perhatian penulis.
Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
  • Tema dikenal/diketahui dengan baik.
Maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
  • Bahan-bahannya dapat diperoleh.
Sebuh tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
  • Tema dibatasi ruang lingkupnya.
Tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya.
tema dapat dikesan melalui:
  1. Perwatakan watak-watak dalam sesebuah cerita.
  2. Peristiwa,kisah,suasana dan unsur lain seperti nilai-nilai kemanusian dan kemasyarakatan yang terdapat dalam cerita.
  3. Persoalan-persoalan yang disungguhkan dan kemudian mendapatkan pokok persoalannya secara keseluruhan.
  4. Plot cerita.
  5. Tema harus Bermanfaat.
  6. Tema yang dipilih harus berada disekitar kita.
  7. Tema yang dipilih harus yang menarik.
  8. Tema yang dipilih ruang lingkup sempit dan terbatas.
  9. Tema yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif.
  10. Tema yang dipilih harus memiliki sumber acuan.
JUDUL
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain, identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersifat menjelaskan diri dan yang menarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah(lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada juga yang mendefinisikan judul sebagai lukisan suatu artikel atau juga disebut miniature isi bahasan.
Judul dapat dikatakan sebagai jabaran topik atau tema. Karena itu, judul harus mampu mencerminkan topic atau tema, tidak boleh menyimpang dari intinya.

Samakah judul dengan topik? Jawabannya tentu saja tidak. Topik ialah pokok pembicaraan, sedangkan judul adalah nama, merek, atau label karangan. Topik bersifat implisit, sedangkat judul bersifat eksplisit. Karena sifat topik, dan judul seperti itu, biasanya penulis menentukan topik yang ingin dibahasnya sebelum menulis, sedangkan pembaca menemukan judul sebelum membaca. Sebaliknya, penulis menentukan judul ketika atau setelah menulis, sedangkan pembaca mengetahui topik tulisan setelah membaca.

Dengan demikian, judul dan topik tidak sama. Dalam karangan fiksi –misalnya- topik tidak dengan sendirinya menjadi judul. Misalnya roman yang berjudul “Siti Nurbaya” bertopik dalam “Kawin Paksa”. Dalam karya ilmiah, biasanya topik bisa serta-merta menjadi judul. Berdasarkan uraian ini, maka topik yang sudah sangat spesifik di atas dapat langsung dijadikan judul.

Fungsi Judul :
  • Merupakan identitas atau cerminan dari jiwa seluruh tulisan.
  • Berkarakter, menarik, jelas hingga mengundang perhatian orang untuk membaca isinya
  • Gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya.
  • Relevan dengan seluruh isi tulisan, maksud masalah, dan tujuannya
Syarat-syarat Pembuatan Judul 
  • Harus relevan = Mempunyai keterkaitan dengan temanya atau bagian-bagian penting dari tema.
  • Harus provokatif = Menarik sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa ingin tahu tiap pembaca terhadap isi tulisan.
  • Harus singkat = Tidak boleh mengambil kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Jika penulis tidak dapat menghindari judul yang panjang, maka dapat menggunakan solusi dengan membuat judul utama yang singkat, tetapi dengan judul tambahan yang panjang.
  • Harus asli = Jangan menggunakan judul yang sudah pernah dipakai.
Syarat-syarat Judul Yang Baik :
  • Harus berbentuk frasa.
  • Tanpa ada singkatan atau akronim.
  • Awal kata harus huruf kapital, kecuali preposisi dan konjungsi.
  • Tanpa tanda baca di akhir judul.
  • Menarik.
  • Logis.
  • Sesuai dengan isi.
Pengertian Judul Langsung dan Tak Langsung :
  1. Judul Langsung : Erat kaitannya dengan bagian utamaberita, sehingga hubungannya dengan bagian utama berita terlihat jelas.
  2. Judul Tak Langsung : Judul yang hubungannya tidak langsung dengan bagian utama berita, tetapi menjiwai seluruh isi tulisan.
Special Thanks Prefer To :
http://jafarbaqdhat.blogspot.com/2012/11/pengertian-topik-tema-judul.html
http://imeldarickyayudibyanto.blogspot.com/2013/11/tematopik-dan-judul.html
http://yukfuk.wordpress.com/2010/04/22/topik-tema-judul
http://rezaprasetyo08.wordpress.com/2012/11/19/topik-tema-judul/
http://edukasi.kompasiana.com/2014/05/14/tema-tema-utama-perumusan-masalah-penelitian-655409.html

Senin, 10 November 2014

PARAGRAF (alenia)

Jika kalian membaca sebuah tulisan atau artikel yang kalimat pertamanya agak menjorok lebih kedalam dari garis yang seharusnya, mungkin saat ini kalian tidak heran lagi. Yap... Namanya adalah Paragraf atau nama lainnya biasa disebut Alenia. Untuk mengetahui sebuah tulisan adalah alenia memang mudah, namun ternyata untuk membuat sebuah alenia dalam tulisan itu lumayan sulit karena alenia sendiri memiliki unsur, syarat, dan macam-macam nya sesuai kaidah yang telah disepakati oleh para ahli.


  • TEORI PARAGRAF
  1. Paragraf adalah sebagai ka-rangan utuh dalam bentuk miniatur karena ciri-ciri utama suatu karangan dipunyai oleh suatu paragraf. Suatu karangan mempunyai perihal pokok yang dikemukakan sebagai isi pokok komunikasi. Demikian pula paragraf juga mempunyai pikiran pokok yang merupakan isi pokok paragraf. Suatu karangan dibangun dengan menggunakan sejumlah unsur, yaitu kata, kalimat, dan paragraf. Demikian pula, para-graf dibangun berdasarkan sejumlah unsur yaitu kata dan kalimat. Suatu karangan menyajikan isi secara utuh. Demikian pula paragraf menyajikan isi se-cara utuh. Walaupun paragraf mempunyai ciri-ciri yang sama dengan karangan, namun dalam sebuah karangan paragraf tetap merupakan unsur bagian karangan. Ujud sebuah paragraf adalah berupa rangkaian kalimat-kalimat yang terdiri dari dua kalimat atau lebih. Dapat pula sebuah paragraf hanya terdiri dari satu kalimat saja yang keseluruhan isi kalimat dalam paragraf merupakan satu kesatuan yang dibangun di atas satu ide atau pikiran pokok. (Syafi'ie , 1998)
  2. Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun secara logis dan sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran atau mengandung satu ide pokok yang tersirat dalam karangan. (Taringan, 1996)
  3. Paragraf adalah seperangkat kalimat berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas (Barnet, 1974).

Dari ketiga teori yang diungkapkan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwasanya paragraf adalah rangkaian atau seperangkat kalimat yang saling berhubungan atau terjalin secara utuh dan membentuk suatu kesatuan pokok pembahasan atau membahas suatu topik pembahasan atau suatu permasalahan pokok. Paragraf hanya mengandung satu gagasan utama atau satu pokok pikiran yang merupakan satuan bahasa yang lebih besar dari pada kalimat.


  • UNSUR - UNSUR PARAGRAF
  1. Topik/tema/gagasan utama/ gagasan inti/ pokok pikiran.
  2. Kalimat utama atau pikiran utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf . Kalimat yang mengandung pikiran pokok disebut kalimat utama. Keberadaannya bisa ada di awal paragraf, diakhir paragraf, bisa juga diawal dan diakhir paragraf.
  3. Kalimat pendukung atau kalimat penjelas berfungsi untuk menjelaskan gagasan utama. Gagasan penjelas biasanya dinyatakan kedalam beberapa kalimat. Kalimat yang mengandung gagasan penjelas disebut kalimat pendukung.
  4. Kata penghubung berfungsi sebagai pengait agar kalimat utama dan kalimat pendukung bisa memiliki kaitan yang erat dan tepat dengan sasaran maksud dan tujuan dari pada penulis, juga bisa membuat sebuah paragraf menjadi lebih menarik.

  • SYARAT -  SYARAT PARAGRAF
1. Adanya Kesatuan

Tiap alenia hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi alenia adalah mengembangkan gagasan pokok atau topik tersebut. Oleh karena itu, dalam pengembangannya tidak boleh ada unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut.
Alenia dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam alenia itu tidak telepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.

2. Koherensi

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alenia ialah koherensi atau kepaduan, yakni adanya hubungan yang harmonis, yang memperlihatkan kesatuan kebersamaan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam sebuah alenia. Alenia yang memiliki koherensi akan sangat memudahkan pembaca mengikuti alur pembahasan yang disuguhkan. Ketiadaan Koherensi dalam sebuah alenia akan menyulitkan pembaca untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya.
Dalam koherensi, termasuk pula keteraturan (sistematika) urutan gagasan. Gagasan dituturkan pula secara teratur dari satu detail ke detail berikutnya, dari satu fakta ke fakta selanjutnya, dari satu soal ke soal yang lain, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti uraian yang disajikan dengan seksama.
Untuk menyatakan kepaduan atau koherensi dari sebuah alenia, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frasa(kelompok kata) dalam bermacam-macam hubungan.

3. Pengembangan Paragraf

Perkembangan paragraf harus dijaga agar jangan sampai mengambang kearah yang tidak relevan untuk menjelaskan gagasan pokok. Misalnya, alenia dimulai dengan kalimat inti yang menyebutkan gagasan pokok yang hendak disampaikan, maka perkembangannya harus menjelaskan gagasan pokok tadi dalam kalimat-kalimat berikutnya, dengan selalu berpegang pada prinsip kesatuan dan koherensi. Perkembangan paragraf diarahkan untuk memperkuat memberikan argumentasi, atau mengkongkritkan pernyataan aau gagasan pokok yang disampaikan dalam kalimat inti di awal alenia.

  • MACAM - MACAM PARAGRAF
Paragram memiliki beberapa macam yang membuat sebuah paragraf lebih beragam, macam ini menentukan pula jenis apa paragraf yang dibuat dan cerita apa yang akan dimasukkan kedalamnya.
Jika dilihat dari macam paragraf, maka paragraf bisa di bangun dari 3 unsur utama yaitu :

1. Berdasarkan Posisi (Letak Kalimat Utama)
  • Paragraf Deduktif : memiliki kalimat utama yang terletak di awal paragraf, strukturnya dimulai dengan pernyataan umum lalu di ikuti oleh uraian-uraian penjelasan khusus.
  • Paragraf Induktif : memiliki kalimat utama yang terletak di akhir paragraf. strukturnya dimulai dari uraian-uraian penjelasan khusus dan di akhiri dengan pernyataan umum.
  • Paragraf Campuran : memiliki kalimat utama yang terletak diawal paragraf. strukturnya hampir sama dengan paragraf deduktif, namun pada kalimat akhirnya diselipkan juga kalimat utama yang bersifat penegasan kembali, sama seperti paragraf induktif'
2. Berdasarkan Fungsi

> Paragraf Pembuka

Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.

> Paragraf Penghubung

Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka.

> Paragraf Penutup

Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.

3. Berdasarkan Isi

A. Paragraf Eksposisi: berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.

B. Paragraf Argumentatif: bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.

C. Paragraf Deskriptif: berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

D. Paragraf Persuasif: karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.

E. Paragraf Naratif : karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.



  • SPECIAL THANKS PREFER TO
http://wonuameasalaro.blogspot.com/2011/12/makalah-paragraf.html
http://www.irfansyahputra.web.id/2014/01/pengertian-paragraf-meliputi-syarat-dan-jenisnya.html
http://tithagalz.wordpress.com/2010/10/24/paragrafalinea/

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates